Pengembangan Desa Wisata, Integrasi Antara Atraksi, Akomodasi, Dan Fasilitas 

DSC_1635

KUSAN HILIR – Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.

Demikian kalimat pembuka yang disampaikan Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu, Hamaluddin Tahir, S.Pd., M.M., dalam pemaparan materi sebagai narasumber pada acara Pelatihan Desa Wisata di Hotel Madani (Putri Duyung), Selasa, 30 Oktober 2018.

Hamaluddin membeberkan saat ini di Tanah Bumbu memiliki 35 tempat tujuan wisata yang tersebar di 10 kecamatan yang terdiri dari 9 tujuan wisata di Kecamatan Kusan Hilir, 4 di Sungai Loban, 3 di Angsana, 4 di Batulicin, 5 di Simpang Empat, 3 di Satui, 5 di Mentewe, dan 2 di Kecamatan Karang Bintang.

Untuk mengoptimalkan pemberdayaan serta peningkatan pengetahuan sumber daya manusia tentang manajemen dan pengelolaan desa wisata di kabupaten Tanah Bumbu yang lebih professional diperlukan pelatihan pembinaan dan pengembangan pengetahuan dasar tentang wisata bagi masyarakat pengelolanya.

Ditambahkannya, sasaran kegiatan Pelatihan Desa Wisata ini adalah para pemangku desa pengelola pariwisata dan masyarakat umum yang tidak berlatar belakang pendidikan kepariwisataan dan Anggota/Pengurus Kelompok Desa Wisata.

Guna memacu peningkatan pengunjung wisatawan dibutuhkan kondisi kawasan destinasi wisata desa yang tertata rapi dan nyaman. Selain itu, juga diperlukan pembangunan dan pengelolaan pada destinasi pariwisata, baik oleh pemerintah, desa, maupun pihak swasta.

Sementara itu, Dewi Setiawati, S.E., M.M. yang juga merupakan Ketua Litbang Asosiasi Perjalanan Wisata (ASITA) Provinsi Kalimantan Selatan dalam pemaparan materinya mengatakan desa wisata merupakan suatu bentuk lingkungan yang memiliki ciri khas, baik alam maupun budaya, yang sesuai dengan tuntutan wisatawan. Dengan demikian, para wisatawan dapat menikmati, mengenal, menghayati, dan mempelajari ciri khas beserta daya tariknya tersebut.

Ditambahkan Dewi, salah satu aspek yang mempengaruhi cepat atau lambatnya perkembangan desa wisata adalah promosi dan SDM. Promosi dapat dilakukan dari mulut ke mulut, melalui brosur panduan, serta media soasial seperti website, Instagram, WhatsApp, Line, Facebook, Twitter, dan lain-lain.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, mengoptimalkan potensi pariwisata tidak dapat terlepas dari pemanfaatan teknologi informasi karena saat ini sebagian besar wisatawan lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial untuk mengetahui destinasi wisata yang akan mereka kunjungi. (Roh/Qis/RSB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *